Rabu, 17 Oktober 2012

MAKALAH PERBANDINGAN PENDIDIKAN DI INDONESIA DAN D MALAYSIA

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah elemen penting dalam proses tumbuh besar dan kematangan seseorang yang dapat melahirkan generasi berguna serta berakhlak mulia. Oleh itu, sistem pendidikan yang mantap penting untuk menerapkan semua nilai murni dalam diri individu (http://aferiza. wordpress. Com /2009/06/10/ memahami- isu-isu-pendidikan-islam-di-malaysia).

Implementasi sistem pendidikan Islam diberbagai negara yang berpenduduk muslim mempunyai corak serta sistem yang satu dengan yang lainnya terkadang terdapat perbedaan. Di negara yang mayoritas penduduknya beragam Islam berbeda nuansanya dengan negara yang relatif berimbang antara setiap pemeluknya, misalnya negara tersebut memiliki pluralitas agama, dominasi penguasa atau”political will” juga amat berpengaruh terhadap kebijaksanaan hukum suatu negara. Karenanya implementasi hukum Islam di negara-negara muslim bukan hanya terletak pada seberapa banyak penganut Islam tetapi juga ditentukan oleh sistem yang dikembangkan oleh negara tersebut (Amrullah Ahmad 1999. 2-3).

Ajaran Islam pada hakekatya terdiri dari dua ajaran pokok. Pertama ajaran Islam yang bersifat absolut dan permanen. Kedua ajaran Islam yang bersifat relatif dan tidak permanen, dapat berubah dan diubah-ubah. Termasuk kelompok kedua ini adalah ajaran Islam yang dihasilkan melalui proses ijtihad. Hal ini menunjukkan terbukanya peluang tentang kemungkinan mengadakan perubahan dan pembaharuan ajaran Islam yang bersifat relatif, termasuk dalam bidang hukum (Fathurrahman Djamil 1997, hal. 43).

Hukum Islam dalam pengertian inilah yang memberi kemungkinan epistimologi bahwa setiap wilayah yang dihuni umat Islam dapat menerapkan hukum secara berbeda-beda. Kenyataan ini tercermin pada kecenderungan sistem hukum di negara-negara muslim dewasa ini. Hal ini bukan saja karena sistem politik yang dianut, melainkan juga oleh faktor sejarah, sosiologi dan kultur  dari masin-masing negara tersebut (Amir Mu’allim  dan Yusdani 1999, hal 2-3).
Dapat dipahami bahwa banyak faktor yang mempengaruhi bagaimana bentuk dari realisasi pendidik Islam. sudah dapat dicerna bahwa perbedaan dalam suatu negara pasti ada, walaupun bentuk perbedaan itu ada yang mencolok perbedaanya ada yang hampir tidak kelihatan.
PERBANDINGAN SISTEM PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA ,
MALAYSIA DAN SINGAPURA
SISTEM PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
A.    Pengertian
Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh manusia untuk mengembangkan potensi manusia lain atau memindahkan nilai-nilai yang dimilikinya kepada orang lain dalam masyarakat. Proses pemindahan nilai itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya adalah, pertama, melalui pengajaran, yaitu proses pemindahan nilai berupa (ilmu) pengetahuan dari seorang guru kepada murid atau murid-muridnya dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Kedua, melalui pelatihan yang dilaksanakan dengan jalan membiasakan seseorang melakukan pekerjaan tertentu untuk memperoleh keterampilan mengerjakan pekerjaan tersebut. Ketiga, melalui indoktrinasi yang diselenggarakan agar orang meniru atau mengikuti saja apa yang diajarkan orang lain tanpa mengizinkan si penerima tersebut mempertanyakan nilai-nilai yang diajarkan atau yang dipindahkan itu.

Ketiga proses pendidikan itu terdapat dan sering berjalan bersamaan dalam masyarakat manusia di dunia ini, baik dalam masyarakat primitif  maupun modern. Dan kalau dikaji dengan seksama ternyata bahwa dipindahkan itu pada umumnya adalah unsur-unsur nilai budaya yang berisi: (1) akhlak atau etika, (2) keindahan atau estitika, (3) ilmu, dan (4) teknologi.

Pemindahan keempat unsur budaya manusa itu selalu terjadi dalam sejarah umat manusia. Yang berbeda hanyalah penekanannya. Pada saat ketika, dalam masyarakat tertentu, yang ditekankan mungkin akhlak dan keindahan, pada masa yang lain, dalam masyarakat yang lain pula, yang dikedepankan atau yang diutamakan adalah ilmu dan teknologi seperti pada zaman kita sekarang ini (Hasan Langgulung, 1979:3-4).

Dalam sistem pendidikan Islam, selain keempat nilai budaya manusia tersebut, nilai-nilai yang dipindahkan adalah juga nilai yang berasal dari Tuhan, yaitu wahyu atau agama, yang oleh Konferensi Pendidikan Islam sedunia tahun1977 di Mekah dirumuskan dengan ilmu abadi.

Pendidikan yang diselenggarakan oleh umat manusia selalu disandarkan pada pandangan hidup atau falsafah yang dianut oleh masyarakat manusia bersangkutan, karena setiap masyarakat mempunyai falasafah dan pandangan hidupnya sendiri. Pandangan hidup masyarakat itulah yang memberi arah ke mana pendidikan akan menuju dan bagaimana cara memindahkan nilai-nilai tersebut. Pandangan hidup pulalah yang menentukan tujuan pendidikan suatu masyarakat

Dalam masyarakat sekuler yang berasakan paham sekularisme, baik sekularisme pragmatis (sekularisme jinak) seperti yang terdapat di Amerika dan Eropa, maupun sekularisme athies marxis (sekularisme ganas) seperti di Uni Soviet dan di negara satelitnya (dulu) terpatri pandangan bahwa kebahagiaan manusia dapat dicapai dengan hanya memperbaiki keadaan ekomoni atau mencukupi kebutuhan materi yang diperlukan oleh manusia saja.

Oleh karena itu, kemampuan manusia yang hendak dikembangkan melalui pendidikan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan kebendaan belaka. Tujuan pendidikannya pun, karenanya bersifat kebendaan atau materialistis

B.    Falsafah dan Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan pendidikan sekuler seperti disebutkan di atas memang sesuai dengan falsafah hidup yang mereka anut, tetapi belum tentu sesuai dengan falsafah hidup muslim yang menjadi landasan falsafah pendidikan Islam. Falsafah Pendidikan Islam adalah pandangan manusia muslim tentang proses pemindahan nilai dan usaha pengembangan bakat dan kemauan manusia untuk dapat menentukan status, tugas, dan fungsinya di dunia ini dalam menjalankan hidupnya menuju ke akhirat (kelak)

Bertitik tolak dari pandangan ini, maka yang dimaksud dengan pendidikan Islam adalah proses penyampaian informasi dalam rangka pembentukan insane yang beriman dan bertakwa agar manusia menyadari kedudukan, tugas dan fungsinya di dunia ini dengan selalu memelihara hubungan dengan Allah, dirinya sendiri, masyarakat, dan alam sekitarnya serta bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa, manusia (termasuk dirinya sendiri) dan lingkungan hidupnya.

Tujuan pendidikan Islam harus sesuai dengan tujuan hidup dan diarahkan untuk mencapai tujuan hidup muslim yang terangkun dalam do’a yag selalu dibacanya setiap kali melakukan shalat, yang juga merupakan ikrar kepada Allah bahwa shalatnya, ibadahnya, hidup dan matinya semata-mata hanya bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Dengan demikian tujuan hidup seorang muslim secara vertical adalah keridhaan Allah dan secara horizontal adalah rahmat bagi alam semesta. Tujuan hidup muslim ini adalah juga tujuan pendidikan Islam yag dirumuskan kembali oleh empat ratus sarjana dan pemikir muslim yang datang dari berbagai penjuru dunia dalam Konferensi Pendidikan Islam sedunia di Mekkah (1977) sebagaimana disebutkan di atas.

Tujuan pendidkan Islam yang selaras dengan tujuan hidup muslim, seperti dikemukakan tadi, memungkinkan manusia muslim memahami kedudukannya sebagai hamba Allah, melaksanakan tugas hidupnya untuk beribadah semata-mata kepada Allah, yakni mengabdi, melaksanakan pengabdiannya hanya kepada Allah saja, baik dalam arti khusus, maupun luas.

Tujuan pendidikan Islam di atas, diharapkan juga dapat menumbuhkan dan mengembangkan dalam diri manusia empat rasa tanggung jawab, yaitu: (1) tanggung jawab kepada Allah, (2) tanggung jawab kepada hati nuraninya sendiri, (3) tanggung jawab kepada masyarakat, dan (4) tanggung jawab memelihara semua yang terdapat di langit dan di bumi serta apa yang ada di antaranya sebagai anugerah Tuhan kepada manusia, termasuk harta yang dimilikinya untuk kemanfaatan manusia dan alam lingkungan hidupnya.

C.    Ciri Khas Sistem Pendidikan Isla
Metodologi Islam dalam melakukan pendidikan adalah dengan melakukan pendekatan yang menyeluruh terhadap wujud manusia, sehingga tidak ada yang tertinggal dan terabaikan sedikitpun, baik segi jasmani maupun segi rohani, baik kehidupannya secara fisk maupun kehidupannya secara mental dan segala kegiatannya di bumi.

Islam memandang manusia secara totalitas, mendekatinya atas dasar apa yang terdapat dalam dirinnya, atas dasar fitrah yang diberikan Allah kepadanya, tidak ada sedikitpun yang diabaikan dan tidak memaksakan apa pun selain apa yang dijadikan sesuai dengan fitrahnya.

Bila orang dapat melihat sarana-sarana yang dimiliki oleh Islam dalam melakukan pendidikan, maka ia akan kagum melihat kecermatan luar biasa yang dilakukan Islam dalam menangani eksistensi manusia. Kecermatannya dalam menggarap setiap unsure dengan tepat, bagaikan disiapkan begitu rupa sehingga sempurna dan tidak ada bandingannya.

Islam adalah agama fitrah, oleh karena itu tidak ada satu system pun yang bisa mendekato kodrat itu seperti dilakukan Islam atau menghasilkan sesuatu setelah dibinanya dan didudukkannya di tempat yang tepat sperti yang di hasilkan Islam.

Islam tidak hanya member konsumsi yang tepat kepada setiap segi manusa, tetapi juga member takaran bagia-bagian yang tepat, tidak lebih dan tidak kurang. Dengan demikian, setelah masing-masing meneriama bagiannya secara tepat dan takarannya yang tepat pula, manusia bekerja dengan rajin, produktif, dan gesit selama hayatnya.

D.    Sistem Pendidikan di Indonesi
Pada awal berkembangnya agama Islam di Indonesia, pendidikan Islam dilaksanakan secara informal. Agama Islam datang ke Indonesia dibawa oleh para pedagang muslim. Sambil berdagang mereka menyiarkan agama Islam kepada orang-orang yang mengelilinginya yaitu mereka yang membeli barang-barang dagangannya. Begitulah setiap ada kesempatan mereka memberikan pendidikan dan ajaran Islam.

Didikan dan ajaran Islam mereka berikan dengan perbuatan, dengan contoh dan tiru teladan. Mereka berlaku sopan santun, ramah tamah, tulus ikhlas, amanah dan kepercayaan, pengasih dan pemurah, jujur dan adil, menepati janji serta menghormati adat istiadat anak negeri. Dengan demikian tertariklah penduduk negeri hendak memeluk agama Islam

Begitulah para pengajar agama Islam pada waktu itu melaksanakan penyiaran Islam kapan saja, dimana saja dan siapa saja setiap ada kesempatan, di pinggir kali sambil menunggu perahu yang akan mengangkut barang ke seberang, di perjamuan, di padang rumput, di pasar, di warung kopi dan sebagainya. Disitulah agama Islam diajarkan dan didikkan kepada mereka dengan cata yang mudah dan dengan demikian orang akan dengan mudah pula menerima dan melakukannya.

Proses ini berlanjut terus dan hubungan antara para penganjur agama dengan anak negeri semakin erat sehingga memungkinkan terbentuknya ukhuwah yang lebih mantap, dan dengan jalan perkawinan dapatlah menurunkan generasi Islam yang mendatang.

Pendidikan dan pengajaran Islam secara formal ini ternyata membawa hasil yang sangat baik sekali dan bahkan menakjubkan, karena dengan berangsur-angsur tersiarlah agama Islam di seluruh kepulauan Indonesia, mulai Sabang sampai Maluku.

Adapun faktor-faktor mengapa agama Islam dapat tersebar dengan cepat di seluruh Indonesia pada waktu itu adalah sebagai berikut :
a.    Agama Islam tidak sempit dan tidak berat melakukan aturan-aturannya, bahkan mudah dituruti oleh segala golongan umat manusia, bahkan untuk masuk Islam cukup dengan mengucapkan dua kalimat syahadat saja.
b.    Sedikit tugas dan kewajiban dalam Islam.
c.    Penyiaran Islam itu dilakukan dengan berangsur-angsur, sedikit demi sedikit.
d.    Penyiaran Islam dilakukan dengan cara kebijaksanaan dan cara yang sebaik-baiknya.
e.    Penyiaran Islam itu dilakukan dengan perkataan yang mudah dipahami umum, dapat dimengerti oleh golongan bawah sampai kegolongan atas dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang maksudnya: berbicaralah kamu dengan manusia menurut kadar akal mereka.

Sistem pendidikan Islam informal ini, terutama yang berjalan dalam lingkungan keluargasudah di akui keampuhannya dalam menanam sendi-sendi agama dalam jiwa anak-anak. Anak-anak dididik dengan ajaran-ajaran agama sejak kecil dalam keluarganya. Mereka dibiasakan untuk melakukan perbuatan-perbuatan dengan didahului membaca basmallah. Mereka dilatih membaca Al-Qur’an, melakukan salat dengan berjama’ah, berpuasa di bula Ramadhan dan lain-lain.

Usaha-usaha pendidikanagama di masyarakat yang kelak dikenal dengan pendidikan non-fornal, ternyata mampu menyediakan kondisi yang sangat baik dalam menunjang keberhasilan pendidikan Islam dan memberi motivasi yang kuat bagi umat Islam untuk menyelenggarakan pendidikan agama yang lebih baik dan lebih sempurna.

Karena dengan cepatnya Islam tersebar di seluruh Indonesia dan karena mudahnya orang masuk Islam, maka banyak sekali orang tua yang tidak memiliki ilmu agama Islam yang cukup untuk mendidika anak-anak mereka. Justru itulah anak-anak mereka suruh pergi ke langgar atau surau untuk mengaji kepada seorang guru ngaji atau guru agama. Bahkan di masyarakat yang kuat agamanya ada suatu tradisi yang mewajibkan anak-anak yang sudah berumur 7 tahun meninggalkan rumah dan ibunya dan tinggal di surau atau langgar untuk mengaji pada guru agama.

Memang, dalam bentuk yang permulaan, pendidikan agama Islam di surau atau langgar atau masjid masih sangat sederhana. Modal pokok yang mereka miliki hanya semangat menyiarkan agama bagi yang telah mempunyai ilmu agama dan semangat menuntut ilmu bagi anak-anak. Yang penting bagi guru agama ialah dapat memberikan ilmunya kepada siapa saja, terutama pada anak-anak

Di pusat-pusat pendidikan seperti ini, di surau, langgar, masjid atau bahkan di serambi rumah sang gur, berkumpul sejumlah murid, besar dan kecil, duduk di lantai, menghadapi sang guru, belajar mengaji. Waktu mengajar biasanya diberikan pada waktu petang atau malam hari, sebab pada waktu siangnya anak-anak membantu orang tuanya bekerja, sedangkan sang guru juga bekerja mencari nafkah keluarganya sendiri. Dengan demikian pelaksanaan pendidikan agama pada anak-anak ini tidak menggangu pekerjaan sehari-hari, baik bagi orangtua anak-anak maupun bagi sang guru agama. Itulah sebabnya, pelajaran agama dan latihan beragama itu mendapat dukungan dari orang tua dan guru malahan dari seluruh masyaral kampung atau desa itu.

Tempat-tempat pendidikan Islam seperti inilah yang menjadi embrio terbentuknya sistem pendidikan pondok pesantren dan pendidikan Islam yang formal yang berbentuk madrasah atau sekolah yang bersandar keagamaan

Pondok pesantren ini tumbuh sebagai perwujudan dari strategi umat Islam untuk mempertahankan eksistensinya terhadap pengaruh penjajahan Barat dan akibat surau atau langgar atau masjid tempat diselenggarakannya pendidikan agama ini tidak lagi dapat menampung jumlah anak-anak yang ingin mengaji. Di samping itu juga didorong oleh keinginan untuk lebih mengingtensifkan pendidikan agama pada anak-anak. Maka sang guru dengan bantuan masyarakat memperluas bangunan disekitar surau, langgar atau masjid untuk tempat mengaji dan sekaligus sebagai asrama bagi anak-anak. Dengan begitu anak-anak tak perlu bolak-balik pulang ke rumah orangtua mereka. Anak-anak menetap tinggal bersama sang guru di tempat tersebut. Tempat mengaji seperti ini disebut Pondok Pesantren

Sesuai dengan namanya, maka pondok berarti tempat menginap ( asrama ), dan pesantren berarti tempat para santri mengaji agama Islam. Jadi Pondok Pesantren adalah tempat murid-murid (disebut santri) mengaji agama Islam dan sekaligus di asramakan di tempat itu.

Murid-muridnya yang tinggal di pondok pesantren itu bermacam-macam sebagai satu keluarga di bawah pimpinan gurunya. Mereka belajar hidup sendiri, mencuci sendiri dan mengurus hal ikhwalnya sendiri. Bahan-bahan keperluan hidup seperti beras dan sebagainya mereka bawa dari kampung sendiri.

Sistem pindidikan pada pondok pesantren ini masih sama seperti sistem pendidikan di surau, langgar atau masjid, hanya lebih intensif dan dalam waktu yang lebih lama.

Di pondok pesantren, murid-murid, besar dan kecil duduk melingkar (halakah) mengelilingi sang guru. Mereka menerima pelajaran yang sama. Tiada dirancangkan sebuah kurikulum tertentu berdasarkan umur, lama belajar atau tingkat pengetahuan. Terserahlah kepada murid untuk memilih bidang pengetahuan apa yang akan mereka pelajari dan pada tingkat pelajaran mana mereka ingin memulai.

Seorang murid yang baru masuk di pondok pesantren, tidak secara langsung belajar pada sang gur di pondok pesantren itu, kecuali bila dia memang telah sanggup. Biasanya murid baru, belajar lebih dahulu pada asisten sang guru tersebut, yaitu seorang pelajar yang telah jauh kajiannya, yang disebut guru bantu atau badal. Bila murid telah dapat membaca dan dapat memahami ala kadarnya kitab, barulah dia menyertai kelompok yang langsung mengaji pada sang guru pesantren tersebut.

Usaha untuk menyelenggarakan pendidikan Islam menurut rencana yang teratur sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1476 dengan berdirinya Bayangkara Islah di Bintara Demak yang ternyata merupakan organisasi pendidikan Islam yang pertama di Indonesia. Dalam rencana kerja dari Bayangkara Islah disebutkan antara lain:

a)    Tanah Jawa-Madura dibagi atas beberapa bagian untuk lapangan pekerjaan bagi pendidikan dan pengajaran. Pimpinan pekerjaan di tiap-tiap bagin dikepalai oleh seorang wali dan seorang pembantu (badal)
b)    Para wali dan para badal, selain harus pandai dalam ilmu agama, harus pula memelihara budi pekerti diri sendiri dan berakhlak mulia, supaya menjadi suri teladan bagi masyarakat sekelilingnya.
c)    Supaya mudah dipahami dan diterima oleh masyarakat maka didikan dan ajaran Islam harus diberikan dengan melalui jalan kebudayaan yang hidup dalam masyarakat itu asal tidak menyalahi hukum syara’
d)    Di Bintara harus segera didirikan sebuah masjid agung untuk menjadi sumber ilmu dan pusat kegiatan usaha pendidikan dan pengajaran Islam.

Sistem pendidikan agama Islam mengalami perubahan sejalan dengan perubahan zaman dan pergeseran kekuasaan di Indonesia. Sejalan dengan itu pemerintahan jajahan (bBelanda ) mulai mengenalkan sistem pendidikan formal yang lebih sistematis dan teratur yang mulai menarik kaum muslimin untuk memasukinya. Oleh karena itu sistem pendidikan Islam di surau, langgar atau masjid atau tempat lain yang semacamnya, di pandang sudah tidak memadai lagi dan perlu di perbaharui dan disempurnakan.

Realisasi dari keinginan-keinginan itu di perkuat adanya kenyataan bahwa penyelenggaraan pendidikan menurut sistem sekolah seperti sistem Barat akan memberi hasil yang lebih baik. Justru itulah mulai diadakan usaha-usaha untuk menyempurnakan sistem pendidikan Islam yang ada. Pendidikan Islam di surau, langgar, masjid atau tempat-tempat lainnya yang semacamnya disempurnakan menjadi madrasah pondok pesantren atau lembaga-lembaga pendidikan yang berdasarkan keagamaan.

Demikianlah sistem pendidikan formal, sekolah atau madrasah, mulai tersebar di mana-mana, bahkan di kalangan pondok pesantren sudah diterapkan pula sistem sekolah atau madrasah ini, di samping sistem pendidikan dan pengajaran pondok pesantren yang sudah ada.

Dalam perkembangannya sitem madrasah ini dibedakan menjadi dua macam yaitu madrasah yang khusus memberi pendidikan dan pengajaran agama disebut Madrasah Diniyah, dan madrasah di samping memberikan pendidikan dan pengajaran agama juga memberi pelajaran umum. Untuk tingkat dasar disebut Madrasah Ibtida’iyah, untuk tingkat menengah pertama disebut Madrasah Tsanawiyah dan untuk tingkat menengah atas disebut Madrasah Aliyah.

Sejalan dengan makin meningkatnya akan kebutuhan pendidikan dan pengajaran agama Islam, maka muncul pula lembaga-lembaga pendidikan formal yang berdasarkan keagamaan, di mana pendidikan agama merupakan program yang pokok, misalnya SMP Islam, SKP Islam, SPG Islam dan sebagainya.

Demikian pula setelah kita berhasil merebut kemerdekaan dan kita telah merdeka, pemerintah Indonesiapun sangat memperhatikan tumbuhnya pendidikan agama Islam. Dalam hal ini Pendidikan agama Islama dijadikan salah satu bidang studi yang diintregasikan dalam kurikulum sekolah. Dan pada waktu ini semua lembaga-lembaga pendidikan agama, baik formal, informal dan non formal berjalan dan berkembang terus, dan khusus mengenai pendidikan agama di sekolah, MPR menetapkan dalam GBHN bahwa pendidikan agama dimasukkan dalam kurikulum sekolah sejak dari sekolah dasar sampai Universitas.

Gambaran Singkat Negara Malaysia
Malaysia adalah salah satu negara muslim di kawasan Asia Tenggara, dengan ibu kota Kuala Lumpur, terletak di semenanjung Malaka serta sebagian Kalimantan Utara. Luas wilayahnya sekitar 333.647 km² dengan jumlah penduduk kurang lebih 18.239.000.Mayoritas penduduknya dalah muslim (53 %), Cina 35 % dan India 10 %. Bahasa resmi adalah bahasa Melayu dan agama Islam merupakan agama resmi di Malaysia (http:// aferiza. wordpress. Com/ 2009/06/10/memahami-isu-isu-pendidikan-islam-di-malaysia/).

Malaysia merupakan kerajaan federal yang terdiri dari tiga belas negara bagian yang meliputi daerah semenanjung Malaka, yakni Johor, Malak, Pahang, Negeri Sembilan, Selangor, Perak, Trengganu, Kelantan, Penang, Kedah, dan Perlis yang terletak di Malaysia Barat Dan Malaysia Timur yang terdiri Sabah dan Serawak yang terletak di Kalimantan bagian utara. Federasi ini terbentuk pada tanggal 16 September 1963. Kepala negara  Malaysia adalah seorang raja dengan gelar “Yang Dipertuan Agung”. Pemerintahan berada di tangan Perdana Menteri yang berhak membentuk Kabinet (Rahman Haji 1997, hal. 14).

Jika dilihat dari sejarah, maka kedatangan Islam dan proses Islamisasi berlangsung melalui jalur perdagangan atas peranan para pedagang muslim dan muballig dari Arab dan Gujarat. Proses Islamisasi ini berjalan baik dengan berdirinya kerajaan Islam yang pertama di Semenanjung Malaka yaitu kerajaan Islam Kalantan  (pertengahan abad ke-12) (Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam 1991, hal. 138).

 Pada abad ke-15  kerajaan Islam Malaka berdiri dengan rajanya yang pertama adalah Parameswara Iskandar Syah, yang memeluk islam pada tahun 1414 M  dengan gelar Sultan Muhammad Syah. Kerajaan ini tercatat sebagai kerajaan pertama di Malaysia yang memiliki undang-undang tertulis yang disebut dengan “Undang-Undang Malaka”. (Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam 1991, hal. 138).

Sejak tahun 1980-an Islam di Malaysia mengalami kebangkitan yang ditandai dengan semaraknya kegiatan dakwah dan kajian Islam oleh kaum intelektual(Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam 1991, hal. 139).

Malaysia merupakan salah satu negara yang mempunyai posisi cukup penting di dunia Islam karena kiprah keislamannya. Berbagai proses Islamisasi di negeri jiran ini tentu tidak terjadi begitu saja, melainkan didahului oleh pencarian dan pergulatan yang panjang, meskipun penduduknya tidak sebanyak penduduk di Indonesia. Namun  demikian Malaysia telah tampil di pentas dunia internasional dengan nuansa serta simbol Islam yang begitu melekat, termasuk dalam kebijakan perundang-undangan banyak diwarnai oleh jiwa keislaman (Sudirman 1993, hal. 65).

Malaysia menyuguhkan suatu pengalaman Islami yang unik. Malaysia adalah sebuah masyarakat multietnik dan multiagama, namun mempunyai kekuatan politik dan budaya yang dominan. Sejak priode awal, Islam mempunyai ikatan erat dengan politik dan masyarakat. Islam merupakan sumber legitimasi bagi para Sultan yang memengang peran sebagai pemimpin agama, pembela iman, dan pelindung hukum Islam, sekaligus pendidikan dan nilai-nilai adat (Rahman Astuti 1999, hal.166).

Malaysia adalah sebuah negara dengan bendera nasional bergambar bulan sabit dan bintang, dengan konstitusi yang menyatakan Islam sebagai agama resmi, dengan Perdana Menteri yang memberi  perioritas tertinggi untuk menyatukan  kaum muslim, dengan pemerintahan yang semua menteri utamanya  beragama Islam, dan dengan idologi nasional yang ditegaskan oleh pemerintah bahwa merupakan tugas suci setiap warga negara untuk membela dan mendukung” konsitusi yang menjamin kedudukan istimewa bangsa Melayu, peranan Sultan, dan penetapan Islam sebagai agama resmi (Rahman Astuti 1999, hal.198).

Sedikit dapat diketahui bagaimana posisi agama Islam di Malaysia, walaupun terdiri dari berbagai etnis dan suku bangsa yang bercampur baur. Tetapi Malaysia mampu menjadikan Islam menjadi agama yang resmi, dan bahkan hampir yang kelihatan dari malaysia adalah kentalnya nuansa keislamannya. Meskipun Malaysia dianggap sebagai sebuah negara muslim yang menyatakan Islam sebagai agama resmi, namun sesungguhnya ia adalah sebuah negara pluralitas yang sekelompok minoritas penting penduduknya adalah non muslim.

Pendidikan Islam di Malaysia
Bahasa Melayu dan bahasa Inggris merupakan mata pelajaran wajib dalam Sistem Pendidikan Malaysia. Sekolah rendah awam di Malaysia terbagi kepada dua jenis, iaitu Sekolah Kebangsaan dan Sekolah Jenis Kebangsaan. Kurikulum di kedua-dua jenis sekolah rendah adalah sama. Perbedaan antara dua jenis sekolah ini ialah bahasa pengantar yang digunakan. Bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa pengantar di Sekolah Kebangsaan. Bahasa Tamil atau bahasa Mandarin digunakan sebagai bahasa pengantar di Sekolah Jenis Kebangsaan. (Omar Farouk 1993, hal.  289).

Sekolah pondok, madrasah dan sekolah agama Islam lain merupakan bentuk sekolah asal di Malaysia. Sekolah-sekolah sedemikian masih wujud di Malaysia tetapi bukan sebahagian daripada pelajaran kanak-kanak di kawasan bandar. Pelajar di kawasan luar bandar masih belajar di sekolah-sekolah ini. Oleh sebab keputusan pelajaran di sekolah-sekolah ini tidak diterima oleh kebanyakan universiti di Malaysia, kebanyakan pelajar ini perlu melanjutkan pelajaran ke kawasan seperti Pakistan atau Mesir (Omar Farouk 1993, hal.  292).

Sistem pendidikan di Malaysia yang banyak dipengaruhi oleh model Inggris (Eropa pada umumnya) yang mementingkan aspek pemahaman dan analisis (http://grelovejogja.wordpress.com/2008/09/13/pendidikan-malaysia-lebih-hebat-dari-indonesia/).
.



Implementasi Sistem Pendidikan Islam Malaysia
Pendidikan yang berdasarkan Islam haruslah mampu mengimbangi apa yang diharapkan para orang tua. Pendidikan berdasarkan ajaran Islam merupakan pendidikan yang baik tanpa membebankan orang tua dan mampu mencetak insan kamil.

Diantara beberapa hal usulan yang dirumuskan di dalam (Disadur dari hasil tulisan pakar sakit puan Malaysia wjim@pd.jaring.my Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya .webmaster @jim. org.my) Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya untuk model pendidikan prasekolah berdasarkan Islam di Malaysia ialah:
1.      Pengajaran dari sudut kejiwaan anak-anak; pendidikan prasekolah perlu meletakkan penilaian khusus dan keutamaan terhadap perubahan sikap, tingkah laku dan adab anak-anak. Penilaian yang dibuat oleh pengajar tidak harus sekadar melihat sama kemampuan anak-anak didiknya, tetapi yang utama adalah tidak melakukan pembedaan-pembedaan antara satu dengan lainnya, pun pembedaan sebab jenis kelamin. Dengan demikian anak dapat menunjukkan ‘perubahan’ sikap dan adab seorang yang toleran, seorang yang berani, peramah, positif dan mampu menunjukkan semangat bekerjasama.
2.      Mendidik orang tua menjadi pendidik yang berkesan; hal ini dipandang perlu karena justru orang tualah “motor” pertama dalam sebuah pendidikan di keluarga. Dari sini pula pencitraan dibentuk. Pencitraan tentang peran masing-masing individu yang biasanya akan mulai teridentifikasi pertama kali oleh jeniskelaminnya.
3.    Meningkatkan mutu pendidik; yaitu dengan memartabatkan sistem latihan yang menyeluruh untuk menjadi guru ‘profesional’ . Dengan itu, guru diharapkan dapat mempunyai pemikiran mantap mengenai pandangan dunia pendidikan Islam dan cara pengendalian pendidikan prasekolah yang terkini dan profesional.
Dalam masyarakat majemuk seperti di Malaysia ini, setiap etnik dan kelompok agama mempunyai sistem pendidikan yang unik bagi mempertahankan identitas dan nilai masing-masing. Islam sepatutnya dapat diketengahkan sebagai satu unsur penting yang menjamin kesejahteraan, kesetaraan dan perpaduan dalam masyarakat seperti ini.
Tiga rahasia keberhasilan pendidikan di Malaysia dalam Supriyoko ( Edisi. 13 Desember 2000) yaitu;
1.      Mau belajar dari negara-negara lain yang lebih dulu maju
2.      Mau mengalokasi anggaran pendidikan dalam jumlah yang cukup memadai
3.      Serta membuat perencanaan jangka panjang yang sistematis dan dijalankan secara konsekuen.
Pemimpin negara Malaysia meyakini hanya dengan pendidikan yang bermutu maka bangsa Malaysia bisa menjadi bangsa yang terhormat di mata bangsa-bangsa yang lainnya. Dan secara konsekuen mereka menjalankan perencanaan jangka panjang yang telah disusun dan diputuskannya. Menghilangkan Arogansi Kinerja pendidikan di Malaysia yang sangat memadai tersebut terbukti telah membawa kemajuan yang sangat berarti bagi bangsa Malaysia; dan dalam banyak hal telah meninggalkan kita yang dulu pernah dianggap sebagai gurunya.

Dari tatanan aplikasi pemerintah malaysia menyediakan sarana dan prasarana belajar yang sangat baik. Baik dari segi sumber ilmu yang berasal dari buku-buku dengan cara menyediakan perpustakaan yang lengkap maupun beasiswa yang diberikan kepada orang yang masih belajar.

Menurut Al-Kattani (2009, hal. 164) ada beberapa hal yang menjadikan belajar dimalaysia menarik, diantaranya adalah:
1.      Fasilitas perpustakaan yang cukup memadai. Buku-buku dan jurnal Islam yang diperlukan dalam kajian keislaman baik yang berbahasa Arab, Inggris, Melayu dan laiin sangat representatif.
2.      Bantuan keuangan dari unuversistas yang diberikan kepada para mahasiswa yang sedang menyelesaikan penelitian tesis dan disertasi.
3.      Pemanfaatan ICT secara optimal dalam setiap proses administrasi dan kegiatan belajar mengajar. Fasilitas ini membuat urusan menjadi mudah, singka, dan efisien.
4.      Biaya perkuliahan relatif murah dengan fasilitas yang sangat memadai.
5.      Universitas-universitas malaysia sering mengadakan seminar baik skala nasional maupun internasiona.

Dapat dipahami banyak sekali faktor pendukung yang sarana dan menciptakan  pendidikan di Malaysia menjadi menarik dan bermutu. Dengan adanya pendukung yang sudah memadai ini akan menjadi pendidikan Islam secara otomatis terimplementasi dengan baik.


Gambaran Singkat Negara Singapura
Wajah Islam di negeri singa ini tak jauh beda dengan wajah di negeri jirannya, Malaysia. Banyak kesamaan, baik dalam praktik ibadah maupun dalam kultur kehidupan sehari-hari. Sedikit banyak, hal ini mungkin dipengaruhi oleh sisa warisan Islam Malaysia, ketika negeri kecil itu resmi pisah dari induknya, Malaysia, pada 1965. Tetapi, sebenarnya agama yang dianut hampir 1,5 milyar umat manusia ini telah lama ada dan berkembang di Singapura, jauh sebelum negeri itu sendiri berdir (http:// www. Muslimsource. com).

Singapura, termasuk negeri yang kaya dan tertib di kawasan Asia Tenggara. Namun siapa sangka tenyata terdapat 70 mesjid yang tersebar merata. Jumlah yang lumayan banyak untuk negara sekecil Singapura. Tidak seperti di Indonesia yang begitu banyak masjid dan mushala sehingga memudahkan kita untuk sholat berjamaah di mushala terdekat. Jumlah umat Islam di Singapura kurang lebih 15% dari total penduduknya, yang sekitar 4,5 juta total jiwa termasuk tenaga kerja asing yang memiliki ijin tinggal, dengan komposisi etnis terdiri dari 77% keturunan China, 14% keturunan Melayu, 7,6% keturunan India dan 1,4% lain-lain (http://www.voa-islam. net/news/ singapore/ 2009/08 /03/607/ voice-of-al-islam-di-singapura-%28 ).

       Dalam kehidupan bermasyarakat, Singapura menganut falsafah “together we make the difference”. Bagi Singapura, falsafah tersebut dapat dijadikan suatu kekuatan yang dapat mensinergikan semua unsur masyarakat.

       Pengembangan kebudayaan di Singapura dalam rangka menghadapi kompetisi global dewasa ini adalah dengan menempatkan kebudayaan sebagai unsur yang sangat penting untuk menigkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan dalam rangka pembentukan karakter bangsa. Kementerian penerangan dann kebudayaan Singapura dalam hubungan ini mempunyai visi yang didasarkan  pada strategi:
1.      Membangun landasan yang kuat bagi kegitan pendidikan,  kesenian dan kebudayaan melalui pendidikan yang berkelanjutan.
2.      Melakukan upaya untuk melahirkan lebih banyak insan-insan budaya yang profesional yang diakui oleh dunia internasional melalui program-program penemuan bakat, program beasiswa dan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan.
Pendidikan di Singapura mengalami perkembangan pesat. Kurikulum yang ditetapkan mencakup semua mata pelajaran termasuk pendidikan moral. Pendidikan moral menjadi fokus penting dalam rangka membentuk masyarkat Singapura yang bebudaya tinggi dalam hal etika, disiplin dan perilaku sosial sehari-hari. Pendidikan pula untuk mengembangkan kreativitas anak didik khususnya dibidang teknologi informasi.

       Visi pendidikan yang dianut adalah “First World Economy, World Class Home” dengan menekankan pentingnya sistem pendidikan yang berkualitas tinggi.

       Para pelajar dan mahasiswa dituntut tidak hanya mempelajari ilmu pengetahuan semata-mata tetapi juga mempelajari cara untuk menciptakan ilmu-ilmu yang baru. Untuk itu, pemerintah telah menyusun tim yang kuat pada menteri pendidika Singapura dengan mengangkat menteri muda yang berkualitas.

       Usaha-usaha penyempurnaan pendidikan dilakukan melalui peninjauan kurikulum dan sistem, rekrutmen siswa khususnya di tingkat universitas, pengembangan teknologi informasi serta pembangunannya secara holistik.

      Singapura bercita-cata universitas terkenal di dunia diharapkan dapat bekerja sama membuka kampus-kampus cabang di singapura. Visi dibidang pendidikan  buka semata-mata sebagai sarana pengambangan sumber daya manusia namun juga menjadi sumber keuangan negara. Kementerian pendidikan Singapura melakukan kerjasama dengann negara-negara lain, termasuk indonesia (file:/// D:/SEMESTER %20III/ Dr.%20I smail/abou t_ sosbud _genera l_info.php.htm).
.
Implementasi Sistem Pendidikan Islam Singapura
Lembaga pendidikan Islam (madrasah) dikelola secara modern dan profesional, dengan kelengkapan perangkat keras dan lunak. Dari seluruh madrasah Islam sebanyak enam buah, seluruhnya di bawah naungan Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS), sistem pendidikan diterapkan dengan memadukan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Keenam madrasah itu adalah madrasah Al-Irsyad Al-Islamiah, madrasah Al-Maarif Al-Islamiah, madrasah Alsagoff Al-Islamiah, madrasah Aljunied Al-Islamiah, madrasah Al-Arabiah Al-Islamiah, dan madrasah Wak Tanjong Al-Islamiah

Waktu penyelenggaraan belajar mengajar dimulai dari pukul 08.00 hingga 14.00. Lama waktu ini juga berlaku di sekolah-sekolah umum dan non-madrasah. Agar tidak ketinggalan dengan kemajuan teknologi, maka di setiap madrasah dibangun laboratorium komputer dan internet, serta sistem pendukung pendidikan audio converence. Selain dilengkapi fasilitas internet, setiap madrasah juga mempunyai server tersendiri bagi pengembangan pendidikan modern. "Murid dibiasakan dengan teknologi, terutama teknologi internet. Setiap hari, mereka diberi waktu dua jam untuk aplikasi dan pemberdayaan internet," jelas Mokson Mahori, Lc, guru di madrasah Al Junied Al Islamiyah. Sayangnya, pendidikan Islam baru ada dalam institusi TK hingga madrasah Aliyah (SMU). Untuk perguruan tingginya hingga kini belum ada (http:// www.voa-islam. com/news /singapore/ 2009/07/04/114/ islam-di-singapura-menuju-komunitas-muslim-yang-maju/).

Manajemen yang sama juga diterapkan dalam pengelolaan masjid. Tidak seperti yang dipahami selama ini, bahwa masjid hanya sebatas tempat ibadah mahdhoh an sich (shalat lima waktu dan shalat Jumat). Tetapi, masid di negeri sekuler ini, benar-benar berfungsi sebagaimana zaman Rasulullah, sebagai pusat kegiatan Islam (http://www.muslimsource.com).

Saat ini di Singapura terdapat 70 masjid. Selain tempatnya yang sangat bersih dan indah, juga di ruas kanan dan kiri di setiap masjid terdapat ruangan-ruangan kelas untuk belajar agama dan kursus keterampilan. Berbagai disiplin ilmu agama diajarkan setiap siang dan sore hari. Kegiatan ceramah rohani usai juga diajarkan usai shalat shubuh atau maghrib (http ://www .muslim source .com).

Aktivitas lainnya, diskusi berbagai masalah kontemporer dan keislaman. Diskusi ini biasanya diadakan oleh organisasi remaja di setiap masjid. Dewan pengurus setiap masjid juga menerbitkan media (majalah dan buletin) sebagai media dakwah dan ukhuwah sesama muslim. Berbeda dengan di negara lainnya, para pengurus masjid digaji khusus, dan memiliki ruangan pengurus eksekutif laiknya perkantoran modern.
Keberadaan lembaga swadaya masyarakat Islam (LSM) juga tak kalah pentingnya dalam upaya menjadikan muslim dan komunitas Islam negeri itu potret yang maju dan progresif. Berbagai LSM Islam yang ada terbukti berperan penting dalam agenda-agenda riil masyarakat muslim.

Saat ini, tidak kurang dari sepuluh LSM, di antaranya adalah: Association of Muslim Professionals (AMP), Kesatuan Guru-Guru Melayu Singapura (KGMS), Muslim Converts Association (Darul Arqam), Muhammadiyah, Muslim Missionary Soceity Singapore (Jamiyah), Council for the Development of Singapore Muslim Community (MENDAKI), National University Singapore (NUS) Muslim Society, Perdaus (Persatuan dai dan ulama Singapura), Singapore Religious Teachers Association (Pergas), Mercy Relief (Center for Humanitarian), International Assembly of Islamic Studies (IMPIAN), dan Lembaga Pendidikan Alquran Singapura (LPQS) (http:// www.voa-islam. com/news /singapore/ 2009/07/04/114/ islam-di-singapura-menuju-komunitas-muslim-yang-maju/).

Seluruh lembaga dan sistem manajemen profesional ini ditujukan bukan saja pada terbentuknya kualitas muslim dan komunitas Islam yang maju, moderat dan progresif, tetapi juga potret yang mampu berkompetisi dan meningkatkan citra Islam di tengah pemandangan global yang kurang baik saat ini. Model demikian inilah yang kini terus diperjuangkan agar Islam yang rahmat menjelma dalam kehidupan masyarakat Singapura.

Selain pendidikan agama Islam, siswa juga belajar tentang subjek umum. Para siswa mempelajari agama Islam sementara mereka juga mempelajari subjek-subjek non Islam.  Madrasah Al Irsyad Al Islamiah di Singapura menjadi contoh pendidikan Islam yang sejalan dengan dunia modern di negeri singa tersebut (http://www.muslimsource.com).

Madrasah Al Irsyad Al Islamiah sendiri memiliki total siswa 900 orang mulai dari tingkat dasar hingga menengah. Demi mengakomodasi kurikulum ganda, Islam dan nasional, sekolah memiliki waktu sekolah tiga jam lebih panjang dari pada sekolah umumnya. Madrasah Al Irsyad menempati urutan pertama dari enam madrasah yang ada di Negeri Singa tersebut (http://www.muslimsource.com).
Selain menganut kurikulum modern, institusi pendidikan Islam tersebut juga memiliki titik utama sebagai Islamic Center dari Dewan Agama Islam Singapura, dewan penasihat yang memberi masukan kepada pemerintah perihal urusan menyangkut Muslim (http://ristu-hasriandi .blogspot. com/2010/07 /madrasah- singapura-berkurikulum-moderen.html).

Kurikulum yang dipakai di Madrasah Al Irsyad Al Islamiah memadukan materi pendidikan lokal dan internasional bernapas Islam dalam kegiatan belajar mengajar. Bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar yang dominan, baik di dalam kelas maupun di laboratorium komputer, laboratorium ilmu pengetahuan, maupun perpustakaan (http://bataviase.co.id/node/139089).
Metodologi pembelajaran Singapura dinilai sangat efektif dan efisien, serta dapat menghasilkan output (luaran) peserta belajar yang unggul (http://www. primaironline. com/berita/detail. php?catid= Nusantara&artid =kalbar-adopsi-kurikulum- singapura ).

Perbandingan Sistem Implementasi Pendidikan Islam di Malaysia dan Singapura.
       Sudah dijelaskan bahwa apabila dilihat perbedaan pendidikan islam di antara dua negara ini tidak begitu banyak perbedaannya. Walupun ada juga perbedaan dari segi kurikulum, metode, ataupun orientasi dari pendidikan.

       Di Malaysia orientasi untama pendidikan adalah menciptakan out-put yang bermutu. Untuk menghasilkan out-put-out-put yang bermutu, Malaysia tidak malu untuk belajar dengan negara lain bahkan belajar dengan negara kita. Tentu kita masih ingat, sekitar seperempat abad yang silam banyak guru SD, SLTP, dan SMU dari Indonesia yang diboyong ke Malaysia. Mereka diminta mengajar Matematika, Kimia, Biologi, Ilmu Bumi, Fisika, dsb. Secara tidak langsung mereka belajar dari kita; dan para guru kita pun mengajar dengan penuh semangat karena di samping diberi gaji yang tinggi dan fasilitas yang lengkap, mereka juga sangat dihormati. Banyak guru tersebut yang sekarang masih hidup menyatakan bahwa penghormatan yang diterima dari bangsa Malaysia justru lebih tinggi dari bangsanya sendiri (Supriyoko, Edisi. 13 Desember 2000).

Di samping guru, banyak juga dosen dan peneliti Indonesia yang diboyong ke Malaysia. Mereka diminta mengembangkan berba-gai ilmu dan teknologi dengan merintis berdirinya jurusan dan/atau fakultas baru di perguruan tinggi; misalnya di Universitas Kebang-saan Malaysia (UKM), Universitas Putra Malaysia (UPM),Universitas Sains Malaysia (USM), dan sebagainya. Seperti halnya dengan para guru, para dosen dan peneliti kita pun merasa amat dihormati oleh mahasiswa, dosen dan masyarakat Malaysia pada umumnya. Faktor inilah yang menjadi alasan untuk memperpanjang kontrak (Supriyoko  Edisi. 13 Desember 2000).

Pemuda Malaysia banyak dikirim ke Indonesia; khususnya di UGM Yogyakarta, ITB Bandung, UI Jakarta, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan perguruan tinggi mapan lainnya. Di samping itu mereka pun juga mengirimkan pemudanya untuk belajar di Amerika Serikat (AS), Inggris, Jerman, dan negara tujuan pendidikan yang lainnya. Tradisi seperti ini masih dipertahankan hingga kini. Itulah sebabnya, meskipun jumlah penduduk Malaysia hanya sepersepuluh penduduk Indonesia tetapi saat ini jumlah mahasiswa Malaysia di AS hampir sama dengan jumlah mahasiswa Indonesia di AS (Supriyoko  Edisi. 13 Desember 2000).

Negara Malaysia mengharapkan dari pendidikan yang sudah tertata rapi dan dengan fasilitas yang sudah sangat baik mampu mencetak insan kamil yang mampu bersaing di dunia global tanpa menghilangakan ciri khas keislaman.

Dari segi kurikulum di Malaysia masih terdapat sistem kurikulum trdisional. Hal ini dikarenakan di Malaysia banyak terdapat pesantren dengan sistem pendidikan tradisional, walaupun ada juga yang sudah modern.

Sedangakan di Singapura pendidikan Islam berorientasi pada pembentukan generasi yang bermoral. Pendidikan moral menjadi fokus penting dalam rangka membentuk masyarkat Singapura yang bebudaya tinggi dalam hal etika, disiplin dan perilaku sosial sehari-hari. Pendidikan pula untuk mengembangkan kreativitas anak didik khususnya dibidang teknologi informasi.

Para pelajar dan mahasiswa dituntut tidak hanya mempelajari ilmu pengetahuan semata-mata tetapi juga mempelajari cara untuk menciptakan ilmu-ilmu yang baru dengan tujuan apabila sudah terbentuk sumber daya manusia yang baik hal ini  menjadi sumber keuangan negara.
Sistem pendidikan islam di singapura moderat dan progresif, tetapi juga potret yang mampu berkompetisi dan meningkatkan citra Islam di tengah pemandangan global yang kurang baik saat ini.

Sedanga kurikulum yang dipakai di Singapura adalah kurikulum modern yang memadukan pendidikan lokal dan internasional bernapaskan Islam dalam kegiatan belajar mengajar.

Kesimpulan
       Dari uruaian di atas dapat dipahami bahwa sistem pendidikan Islam Malaysia dan Singapura tidak begitu memiliki perbedaan hanya saja ada yang masih terdapat  sistem pendidikan Islam trdisional dan ada yang sudah memakai sistem modern secara keseluruhan.
       Dilihat dari orientasi pendidikan walaupun memakai istilah yang bebeda Malaysia dengan istilah membentuk insan kamil dan Singapura dengan istilah manusia yang bermoral tetapi pada intinya sama, untuk menciptakan out put yang bermutu, mampu bersaing dengan tetap memakai keislaman.

REFERENSI
Abdullah, Abdul Rahman Haji 1997. Pemikiran Islam di Malaysia Sejarah dan Pemikiran. Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press.
Amir Mu’allim  dan Yusdani 1999. Konfigurasi Pemikiran Hukum Islam. Cet. I; Yogyakarta: UI Press.
Amrullah Ahmad, et.al., Dimensi Hukum Islam dalam Sistim Hukum Nasional (Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 1996), h. xi. Lihat juga Amir Mu’allim  dan Yusdani, Konfigurasi Pemikiran Hukum Islam (Cet. I; Yogyakarta: UI Press, 1999).
Esposito,  John L. dan John O. Volt Islam and Democracy. Diterjemahkan oleh Rahman Astuti dengan judul Demokrasi di Nagara-Negara Muslim Problem dan Prospek. Cet. I; Bandung: Mizan, 1999.
Kerajaan Malaka merupakan kerajaan Islam terkuat dan berpengaruh besar dalam menyebarkan Islam di Malaysia, juga ditempatkan sebagai pusat perdagangan dan kubu keimanan. Lihat Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedia Islam (Cet. III; Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1991).
Nordin, abu bakar1994. Reformasi Pendidikan dalam Menghadapi Cabaran 2020 Nurin enterprise Kuala lumpur.
Omar Farouk 1993. “Penelitian Sosial dan Kebangkitan Islam di Malaysia”, DALAM Zaiful Muzani, Pembangunan dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara Cet. I; Jakarta: LP3ES.
Sufeyen hussin, Pendidikan di Malaysia sejarah, sistem dan falsafah, dawama sdn, bhd, Ampang hulu kelang, 2004.
Supriyoko, Surat Kabar Harian “KEDAULATAN RAKYAT”, terbit di Yogyakarta, Edisi 13 Desember 2000.
Tebba, Sudirman 1993. Perkembangan Mutakhir Hukum Islam di Asia Tenggara Studi Kasus Hukum Keluarga dan Pengkodifikasiannya. Cet. I; Bandung.
Hayyie Al-Kattani 2009,  Abdul dkk, Study in Islamic countries, Gema Insani: Jakarta.
wjim@pd.jaring.my Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya .webmaster @jim. org.my
http://www.primaironline.com/berita/detail.php?catid=Nusantara&artid=kalbar-adopsi-kurikulum-singapura


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar